BAB 1
PENDAHULUAN
1.1
Latar Belakang Masalah
Bimbingan Konseling merupakan salah satu
komponen penyelenggaraan pendidikan di sekolah yang keberadaannya sangat
dibutuhkan, khususnya untuk membantu peserta didik dalam pengembangan pribadi,
kehidupan sosial, kegiatan belajar, serta perencanaan dan pengembangan karir.
Didalam pelaksanaannya bimbingan konseling sangat berperan penting didalam
penyelenggaraan pendidikan. Peserta didik dapat diarahkan pada hal yang
positif.
Dapak positif dari kondisi global telah
mendorong manusia untuk erus berfikir dan meningkatkan kemempuan. Adapun dampak
negatif dari globalisasi adalah (1) kekerasa hidup semakin meningkat karena
banyaknya konflik, strees, kecemasan frustasi. (2) Adanya kecenderungan
disiplin, kolusi dan korupsi.(3) Adanya ambisi kelompok yang menimbukan konflik
psikis dan fisik. (4) mengunakan zat aditif seperti obat-obatan terlarang untuk
memecahkan masalah.
1.2 Tujuan
§ Memenuhi tugas yang diberikan pada mata kuliah
Bimbingan Konseling.
§ Mahasiswa dapat memahami tentang bimbingan dan
konseling.
§ Mahasiswa dapat mengenal, memahami potensi dan
perkembangan peserta didik.
§ Memehami dan mengatasi kesulitan diri sendiri
§ Mahasiswa dapat memahami landasan historis
bimbingan konseling.
BAB 2
PEMBAHASAN
2.1 Konsep Dasar Bimbingan
Konseling
2.1.1.Tujuan
Bimbingan
Tujuan pemberian
layanan pendidikan adalah agar individu dapat;
1) Merencanakan
kegiatan penyelesain studi, perkembangan karir serta kehidupanya di masa yang
akan dating.
2) Mengembankan
seluruh potensi dan kekuatan yang dimiliki seoptimal mungkin.
3) Menyesuaikan
diri dengan lingkungan pendidikan, lingkungan pendidikan, masyarakat, maupun
lingkungan kerja.
Untuk mencapai tujuan
tersebut, mereka harus mendapatkan kesempatan untuk;
1)
Mengenal dan memahami potensi, kekuatan
dan tugas-tugas perkembangannya.
2)
Mengenal dan memahami potensi atau
peluang yang ada di lingkunganya.
3)
Mengenal dan menentukan tujuan dan
rencana hidupnya serta rencana tujuan pencapaian tujua tersebut.
4)
Memahami dan mengatasi
kesulitan-kesulitan sendiri
5)
Mengunakan kemampuanya untuk kepentingan
dirinya, kepentinga lembaga tempat bekerja dan masyarakat.
6)
Menyesuaikan diri dengan keadaan dan
tuntutan dari lingkunganya.
7)
Mengembangkan segala potensi dan
kekuatanya yang dimilikinya secara tepat dan teratur secara optimal.
Secara khusus bimbingan
dan koseling bertujuan untuk membantu peserta didik agar dapat mencapai tujuan
perkembanganya yang meliputi aspek pribadi-sosial, belajar (akademik), dan
karir.
2.1.2 Fungsi Bimbingan
a. Pemahaman,
yaitu peserta didik (siswa) agar memiliki pengalaman terhadap dirinya
(potensinya) dan lingkungannya (pendidikan, pekerjaan, dan norma agama).
b.
Preventif,
yaitu upaya konselor untuk senantiasa mengantisipasi berbagai masalah yang
mungkin terjadi dan berupaya untuk mencegahnya, supaya tidak dialami oleh
peserta didik.
c.
Pengembangan,
yaitu konselor senantiasa berupaya untuk menciptakan lingkungan belajar yang
kondusif, yang memfasilitasi perkembangan siswa.
d.
Perbaikan
(Penyembuhan), yaitu fungsi bimbingan yang bersifat
kuratif.
e.
Penyaluran,
yaitu fungsi bimbingan dalam membantu individu memilih kegiatan
ekstrakulikuler, jurusan atau program studi,dan memantapkan penguasaan karir
atau jabatan yang sesuai dengan minat, bakat, keahlian dan ciri-ciri
kepribadian lainnya.
f.
Adaptasi,
yaitu fungsi membantu para pelaksana pendidikan khususnya konselor, guru atau
dosen untuk mengadaptasikan program pendidikan terhadap latar belakang
pendidikan, minat, kemampuan, dan kebutuhan indivdu (siswa).
g.
Penyesuaian,
yaitu fungsi bimbingan dalam membantu indvidu (siswa) agar dapat menyesuaikan
diri secara dinamis dan konstruktif terhadap terhadap program pendidikan,
peraturan sekolah, atau norma agama.
2.1.3 Prinsip-Prinsip Bimbingan
Terdapat beberapa prinsip dasar yang
dipandang sebagai fondasi atau landasan bagi layanan bimbingan. Prinsip-prinsip
ini berasal dari konsep-konsep filosofis tentang kemanusiaan yang menjadi dasar
bagi pemberian layanan bantuan atau bimbingan, baik di sekolah maupun di luar
sekolah. Prinsip-prinsip itu adalah sebagai berikut.
a.
Bimbingan
diperuntukkan bagi semua individu (guidence is for all individuals). Prinsip ini berarti bahwa
bimbingan diberikan kepada semua individu atau peserta didik, baik yang tidak
bermasalah maupun yang bermasalah; baik pria maupun wanita; baik anak anak,
remaja, maupun dewasa.
b.
Bimbingan
bersifat individualisasi. Setiap individu bersifat unik
(berbeda satu sama lainnya), dan melalui bimbingan individu dibantu untuk
memaksimalkan perkembangan keunikannya tersebut.
c.
Bimbingan
menekankan hal yang positif. Dalam kenyataan masih ada
individu yang memiliki persepsi yang negatif terhadap bimbingan, karena
bimbingan dipandang sebagai satu cara yang menekankan aspirasi.
d.
Bimbingan
Merupakan Usaha Bersama. Bimbingan bukan hanya tugas atau
tanggung jawab konselor, tetapi juga tugas guru guru dan kepala sekolah.
e.
Pengambilan
Keputusan Merupakan Hal yang Esensial dalam Bimbingan.
Bimbingan diarahkan untuk membantu individu agar dapat melakukan pilihan dan
mengambil keputusan.
f.
Bimbingan
Berlangsung dalam Berbagai setting (Adegan) Kehidupan.
Pemberian layanan bimbingan tidak hanya berlangsung sekolah, tetapi juga di
lingkungan keluarga, perusahaan/industri, lembaga-lembaga pemerintah/swasta,
dan masyarakat pada umumnya.
2.1.4 Jenis Layanan Bimbingan
Untuk memenuhi fungsi
dan tujuan bimbingan perlu dilaksanakan berbagai kegiatan layanan bantuan.
Beberapa jenis layanan bantuan bimbingan itu di antaranya adalah sebagai berikut.
a.
Pelayanan
Pengumpulan Data tentang Siswa dan Lingkungannya,
Pelayanan ini merupakan usaha untuk mengetahui diri individu atau siswa
seluas-luasnya, beserta latar belakang lingkungannya.
b.
Konseling,
Konseling merupakan pelayanan terpenting dalam program bimbingan. Layanan ini
memfasilitasi siswa untuk memperoleh bantuan bantuan pribadi secara langsung,
baik secara face to face maupun melalui media.
c.
Penyajian
Informasi dan penempatan. Penyajian informasi dalam arti
menyajikan keterangan (informasi) tentang bebagai aspek kehidupan yang
diperlukan individu, seperti menyangkut aspek: (a) karakteristik dan
tugas-tugas perkembangan pribadi pribadinya, (b) sekolah-sekolah lanjutan, (c)
dunia kerja, (d) kiat-kiat belajar yang efektif, (e) bahaya merokok, minuman
keras, dan obat-obatan terlarang, dan (f) pentingnya menyesuaikan diri dengan
norma agama atau nilai-nilai moral yang dijunjung tinggi masyarakat.
d.
Penilaian
dan Penelitian. Layanan penilaian dilaksanakan untuk
menegetahui tujuan program bimbingan apa
saja yang telah dilaksanakan dapat dicapai.
2.1.5
Asas Bimbingan dan Konseling
Keberhasilan bimbingan dan konseling sangat
ditentuhkan oleh diwujudkannya asas asas berikut.
a.
Rahasia,
yaitu menuntut dirahasiakannya segenap data dan keterangan tentang peserta
didik (klien) yang menjadi sasaran layanan, yaitu data atau keterangan yang
tidak boleh dan tidak layak diketahui oleh orang lain.
b.
Sukarela,
yaitu menghendaki adanya kesukaan dan kerelaan peserta didik (klien)
mengikuti/menjalani layanan/kegiatan yang diperlukan baginya.
c.
Terbuka,
yaitu mengehndaki agar peserta didik (klien) yang menjadi sasaran
layanan/kegiatan bersifat terbuka dan tidak berpura-pura, baik di dalam
menerima berbagai informasi dan materi dari luar yang berguna bagi pengembangan
dirinya.
d.
Kegiatan,
yaitu menghendaki agar peserta didik (klien) yang menjadi sasaran layanan
berpartisipasi secara aktif di dalam penyelengaraan layanan/kegiatan bimbingan.
e.
Mandiri,
yaitu menunjuk pada tujuan umum bimbingan dan konseling, yakni: peserta didik
(klien) sebagai sasaran layanan bimbingan dan konseling diharapkan menjadi
individu-individu yang mandiri dengan ciri-ciri mengenal dan menerima diri
sendiri dan lingkungannya, mampu mengambil keputusan, mengarahkan serta
mewujudkan diri sendiri.
f.
Kini,
yaitu menhendaki agar objek-objek sasaran layanan bimbingan dan konseling ialah
permasalahan peserta didik (klien) dalam kondisinya sekarang.
g.
Dinamis,
yaitu asas bimbingan dan konseling yang agar isi layanan terhadap sasaran
layanan (klien) yang sama kehendaknya selalu bergerak maju, tidak monoton, dan
terus berkembang serta berkelanjutan sesuai dengan kebutuhan dan tahap
perkembangannya dari waktu ke waktu.
h.
Terpadu,
yaitu asas bimbingan dan konseling yang menghendaki agar berbagai layanan dan
kegiatan bimbingan dan konseling, baik yang dilakukan oleh guru pembimbing
maupun pihak lain, saling menunjang, harmonis, terpadu.
i.
Harmonis,
yaitu mengehandaki agar segenap layanan dan kegiatan bimbingan dan konseling
didasarkan pada nilai dan norma yang ada, tidak boleh bertentangan dengan nilai
dan norma yang ada, yaitu nilai dan norma agama, hukum dan peraturan, adat
istiadat, ilmu pengetahuan, dan kebiasaan yang berlaku.
j.
Ahli,
yaitu menghendaki agar layanan dan kegiatan bimbingan dan konseling
diselenggarakan atas dasar kaidah-kaidah profesional.
k.
Alih
Tangan Kasus, yaitu menghendaki agar pihak-pihak
yang tidak mampu menyelenggarakan layanan bimbingan dan konseling secara tepat
dan tuntas atas suatu permasalahan peserta didik (klien) mengalihtangankan
permasalahan itu kepada pihak lebih ahli.
l.
Tut
Wuri Handayani, yaitu asas bimbingan dan konseling yang menghendaki agar pelayanan
bimbingan dan konseling secara keseluruhan dapat menciptakan suasana yang
mengayomi (memberikan rasa aman), mengembangkan keteladanan, memberikan rangsangan
dan dorongan serta kesempatan yang seluas-luasnya kepada peserta didik (klien)
untuk maju.
2.2 LANDASAN HISTORIS
2.2.1
Perkembangan Layanan Bimbingan di Amerika
Pada tahun 1898 Jesse
B. Davis, seorang konselor sekolah Detroit memulai memberikan layanan koseling
pendidikan dan pekerjaan di SMA. Pada tahun 1907, dia diangkat menjadi kepala
SMA di grand Rapids,Michigan. Dia memesukan program bimbingan di sekolah
tersebut. Tujuan dari program bmbingan disini ialah untuk membantu siswa agar
mampu
a) Mengembangkan
karakternya yang baik (memiliki nilai moral, ambisi, bekerja keras, dan
kejujuran)
b) Mencegah
dirinya dari prilaku bermasalah
c) Menghubungkan
minat pekerjaaan dengan kurikulum (mata pelajaran)
Pada waktu yang sama
para ahli t juga mengembangkan program bimbingan seperti berikut:
a.
Eli
Weaper, pada tahun 1906 menerbitkan booklet tentang “Memilih
suatu karir”. Dia telah berhasil membentuk komite Guru pembimbing di sekolah
menegah di New York.
b.
Frank
parson, dikenal sebagai “father
of the Guidancemovement in American educatioan” mendirikan biro pekerjaan
yang tujuanya membantu para pemuda untuk memilih karir yang didasarkan atas
proses seleksi secara ilmiah.
c.
E.G
Wliamson (1930-1940) menulis buku how to counsel Student; A manual of techniques for Clinical Counselors.
Peranan konselor bersifat direktif dengan menekankan kepada (a) mengajar
keterampilan dan (b) membentuk sikap dan tingkah laku.
d.
Cral
R. Rogers, mengembangkan teori koseling client-centered yang tidak berfokus
kepada masalah tetapi mementingkan hubungan antara konselor dengan klientnya.
Selaian
itu Bradley (Jhon J. pietrofessa et.al.,1980) menambah satu tahapan dari tiga
tahapan tentang sejarah bimbingan menurut Stiller yaitu:
1)
Vocational
Exploration, yaituthapan yang menekankan tentang
analisis individual dan pasaran kerja.
2)
Meeting
Individual Needs, yaitu tahapan pada periode 40-50an yang
menekankan kepada upaya membantu individu agar meperoleh kepuasan kebutuhan
hidupnya.
3)
Transisional
Professionalism, yaitu taapan yang memfokuskan
perhatianya kepada upaya profesionalisasi konselor.
4)
Situational
Diagnosis, yaitu tahapan yang terjadi pada tahun
1970an sebagai periode perubahan dan inovasi.
2.2.2
Perkembnangan dan Layanan Bimbingan di Indonesia
Perkembangan
layanan bimbingan di Indonesia berbeda dengan di Amerika. Seperti terterapada
uraian di atas, pekembangan layanan bimbingan di Amerika di mulai dari usaha
perorangan dan pihak swasta, kemudian berangsur-angsur menjadi usaha
pemerintah.
Layanan bimbingan di Indonesia telah mulai
di bicarakan secara terbuka sejak tahun 1962. Hal ini ditandai dengan adanya
perubahana system pendidikkan di SMA, yaitu dengan adanya perubahan nama
menjadi nama SMA Gaya Baru, dan berubahnya waktu penjurusan, yang awalnya di
kelas I menjadi di kelsa II. Program penjurusan ini respon akan kebutuhan untuk
menyalurkan para siswa ke jurusan yang tepat bagi dirinya secara perorangan.
Dalam rencana ini SMA gaya baru, diantaranya di tegaskan sebagai berikut.
a. Di
kelas I setiap pelajar diberi kesempatan untuk lebih mengenal bakat dan
minatnya, dengan jalan menjelajahi segala mata pelajaran di SMA ,dan dengan bimbingan penyuluhan yang
teliti dari para guru maupun orangtua.
b. Dengan
mempergunakan peraturan kenaikan kelas dan bahan-bahan cattan dalam kartu
pribadi setiapa murid, para pelajar disalurkan ke kelas II kelompok khusus:
Budaya, Sosial, Pasti dan Pengetahuan Alam.
c. Untuk
kepentingan tersebut, maka pengisian kartu pribadi murid harus dilaksanakan
seteliti-telitinya (Rochman Natawidjaja,1971)
Dua
naskah penting dalam sejarah perkembangan layanan bimbingan di Indonesia, yaitu
sebagai berikut.
a. Pola
dasar Rencana dan Pengembanagan Program Bimbimngan dan Penyuluhan melalaui
Proyek-proyek Perintis Sekolah Pembangunan.
b. Pedooman
Oprasional Pelayanan Bimbingan pada Proyek-proyek Periintis Sekolah
Pembangunan.
Secara
formal bimbingan dan konseling diprogramkan di sekolah sejak berlauknya
kurikulum 1975, yang menyatakan bahwa bimbingan dan penyuluhan merupakan bagian
integral dalam pendidikan di sekoalah.
Setelah melalui penataan maka dalam
decade 80-an bimbingan diupayakan agar lebih mantap. Pemantapan terutama
diusahakan untuk mewujudkan layanan bimbingan yang professional. Upaya-upaya
untuk dalam decade ini lebih mengarah pada profosinalisasi yang lebih mantap.
Beberapa upaya dalam pendidikan dilakukan dalam dekade ini adalah penyempurnaan
kurikulum, dari kurikulum 1975 ke kurikulum 1984 telah dimasukan bimbingan
karir didalamnya.
Pada tahun yang sama keluar juga Surat
Keputusan Bersama Mendikbud dengan Kepala BAKN No. 0433/P/1993 dan No.26 tahun
1993 tentang Petunjuk Pelaksanaan Jabatan Funsional Guru dan Angka Kreditnya.
a. Standar
Prestasi Kerja Guru Pratama sampai Guru dewasa Tingkat I dalam melaksanakan PBM
atau Bimbingan Meliputi Hal berikut.
1) Persiapan
program pengajaran atau praktik atau bimbingan dan konseling (BK)
2) Penyajian
program paengajaran atau paraktik atau bimbingan dan konseling.
3) Evaluasi
program pengajaran atau praktik atau bimbingan dan koseling
b. Standar
prestasi kerja guru Pembina sampai guru utama selain tersebut pada ayat 1
ditambah dengan hal berikut.
1) Analisis
hasil evaluasi pengajarran atau praktik atau BK
2) Penyusun
program perbaiakan dan pengayaan atau tindak lanjut pelaksanaan BK.
3) Pengembangan
profesi dengan angka kredit sekurang-kurangnya 12 buah
c. Khusus
standar prestasi kerja guru kelas, selain tersebut pada ayat (1) atau Ayat (2),
sesuai dengan jenjang jabatanya ditambah melaksanakan program BK di kelas yang
menjadi tanggung jawabanya
Berdasarkan penelaahan
yang cukup kritis terhadap perjalanan historis gerakan bimbingan dan konseling
di Indonesia, Prayitno (2003) mengemukakan bahwa periodesasi perkembangan
gerakan bimbingan dan penyuluhan di Indonesia melailui lima periode, yaitu:
Ø Periode
I dan II: Prawacana dan Pengetahuan (sebelum 1960-1970an ).
Pada periode ini
pembicaraan tentang bimbingan dan konseling telah dimulai, terutama oleh para
pendidik yang pernah mempelajarinya di luar negeri.
Ø Periode
III; Permasyarakatan (1970-1990an).
Pada periode ini berlakunya kurikulum 1975
untuk Sekolah Dasar sampai Sekolah Menengah Tingkat Atas. Kurikulum ini secara
resmi mengintegrasikan ke dalamnya layanan BP ini untuk siswa.
Ø Peride
IV; Konsolidasi (1990-2000)
Pada periode ini IPBI
(Ikatan Petugas Bimbingan Indonesia) berusaha keras untuk mengubah kebjakan
bahwa pekayanan BP itu dapat dilaksanakan semua guru
Ø Periode
V: Lepas Landas (2001)
Semula diharapkan
periode konsolidasi akan dapat mencapai hasil-hasil yang memadai , sehingga
mulai tahun 2001 profesi BK di Indonesia sudah dapat tinggal landas. Namun
nyatanya menunjukan bahwa masih ada permasalahan yang belum terkonsolidasi ,
yang berkenan dengan sumber daya manusia (SDM). Kelemahanya berakar dari kodisi
untrained, undertrained, dan uncommitted para
pelaksana layanan.
Simpulan
Bimbingan
konseling tidak dapat dipisahkan dari dunia pendidikan untuk memberikan
pelayanan kepada peserta didik untuk mengembangkan potensi yang dimiliki dan
juga bisa digunakan untuk memecahkan suatu masalah. Pengembangan potensi
individu sudah berkembang sejak zaman Yunani Kuno, yang dipelopori oleh Plato
dan Aristoteles.
Daftar
pustaka
Yasuf, Syamsu dan A. Juntika Nurihsan (2011) Landasan Bimbingan & Konseling. Bandung
: PT Remaja Rosdakarya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar