Rabu, 26 Februari 2014

BAB 1
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah
Bimbingan Konseling merupakan salah satu komponen penyelenggaraan pendidikan di sekolah yang keberadaannya sangat dibutuhkan, khususnya untuk membantu peserta didik dalam pengembangan pribadi, kehidupan sosial, kegiatan belajar, serta perencanaan dan pengembangan karir. Didalam pelaksanaannya bimbingan konseling sangat berperan penting didalam penyelenggaraan pendidikan. Peserta didik dapat diarahkan pada hal yang positif.
Dapak positif dari kondisi global telah mendorong manusia untuk erus berfikir dan meningkatkan kemempuan. Adapun dampak negatif dari globalisasi adalah (1) kekerasa hidup semakin meningkat karena banyaknya konflik, strees, kecemasan frustasi. (2) Adanya kecenderungan disiplin, kolusi dan korupsi.(3) Adanya ambisi kelompok yang menimbukan konflik psikis dan fisik. (4) mengunakan zat aditif seperti obat-obatan terlarang untuk memecahkan masalah.

1.2 Tujuan
§  Memenuhi tugas yang diberikan pada mata kuliah Bimbingan Konseling.
§  Mahasiswa dapat memahami tentang bimbingan dan konseling.
§  Mahasiswa dapat mengenal, memahami potensi dan perkembangan peserta didik.
§  Memehami dan mengatasi kesulitan diri sendiri
§  Mahasiswa dapat memahami landasan historis bimbingan konseling.







BAB 2
PEMBAHASAN

2.1 Konsep Dasar Bimbingan Konseling
2.1.1.Tujuan Bimbingan
Tujuan pemberian layanan pendidikan adalah agar individu dapat;
1)    Merencanakan kegiatan penyelesain studi, perkembangan karir serta kehidupanya di masa yang akan dating.
2)    Mengembankan seluruh potensi dan kekuatan yang dimiliki seoptimal mungkin.
3)    Menyesuaikan diri dengan lingkungan pendidikan, lingkungan pendidikan, masyarakat, maupun lingkungan kerja.
Untuk mencapai tujuan tersebut, mereka harus mendapatkan kesempatan untuk;
1)      Mengenal dan memahami potensi, kekuatan dan tugas-tugas perkembangannya.
2)      Mengenal dan memahami potensi atau peluang yang ada di lingkunganya.
3)      Mengenal dan menentukan tujuan dan rencana hidupnya serta rencana tujuan pencapaian tujua tersebut.
4)      Memahami dan mengatasi kesulitan-kesulitan sendiri
5)      Mengunakan kemampuanya untuk kepentingan dirinya, kepentinga lembaga tempat bekerja dan masyarakat.
6)      Menyesuaikan diri dengan keadaan dan tuntutan dari lingkunganya.
7)      Mengembangkan segala potensi dan kekuatanya yang dimilikinya secara tepat dan teratur secara optimal.
Secara khusus bimbingan dan koseling bertujuan untuk membantu peserta didik agar dapat mencapai tujuan perkembanganya yang meliputi aspek pribadi-sosial, belajar (akademik), dan karir.
2.1.2  Fungsi Bimbingan
a.      Pemahaman, yaitu peserta didik (siswa) agar memiliki pengalaman terhadap dirinya (potensinya) dan lingkungannya (pendidikan, pekerjaan, dan norma agama).
b.      Preventif, yaitu upaya konselor untuk senantiasa mengantisipasi berbagai masalah yang mungkin terjadi dan berupaya untuk mencegahnya, supaya tidak dialami oleh peserta didik.
c.       Pengembangan, yaitu konselor senantiasa berupaya untuk menciptakan lingkungan belajar yang kondusif, yang memfasilitasi perkembangan siswa.
d.      Perbaikan (Penyembuhan), yaitu fungsi bimbingan yang bersifat kuratif.
e.       Penyaluran, yaitu fungsi bimbingan dalam membantu individu memilih kegiatan ekstrakulikuler, jurusan atau program studi,dan memantapkan penguasaan karir atau jabatan yang sesuai dengan minat, bakat, keahlian dan ciri-ciri kepribadian lainnya.
f.       Adaptasi, yaitu fungsi membantu para pelaksana pendidikan khususnya konselor, guru atau dosen untuk mengadaptasikan program pendidikan terhadap latar belakang pendidikan, minat, kemampuan, dan kebutuhan indivdu (siswa).
g.      Penyesuaian, yaitu fungsi bimbingan dalam membantu indvidu (siswa) agar dapat menyesuaikan diri secara dinamis dan konstruktif terhadap terhadap program pendidikan, peraturan sekolah, atau norma agama.

2.1.3  Prinsip-Prinsip Bimbingan
Terdapat beberapa prinsip dasar yang dipandang sebagai fondasi atau landasan bagi layanan bimbingan. Prinsip-prinsip ini berasal dari konsep-konsep filosofis tentang kemanusiaan yang menjadi dasar bagi pemberian layanan bantuan atau bimbingan, baik di sekolah maupun di luar sekolah. Prinsip-prinsip itu adalah sebagai berikut.
a.     Bimbingan diperuntukkan bagi semua individu (guidence is for all individuals). Prinsip ini berarti bahwa bimbingan diberikan kepada semua individu atau peserta didik, baik yang tidak bermasalah maupun yang bermasalah; baik pria maupun wanita; baik anak anak, remaja, maupun dewasa.
b.      Bimbingan bersifat individualisasi. Setiap individu bersifat unik (berbeda satu sama lainnya), dan melalui bimbingan individu dibantu untuk memaksimalkan perkembangan keunikannya tersebut.
c.       Bimbingan menekankan hal yang positif. Dalam kenyataan masih ada individu yang memiliki persepsi yang negatif terhadap bimbingan, karena bimbingan dipandang sebagai satu cara yang menekankan aspirasi.
d.      Bimbingan Merupakan Usaha Bersama. Bimbingan bukan hanya tugas atau tanggung jawab konselor, tetapi juga tugas guru guru dan kepala sekolah.
e.       Pengambilan Keputusan Merupakan Hal yang Esensial dalam Bimbingan. Bimbingan diarahkan untuk membantu individu agar dapat melakukan pilihan dan mengambil keputusan.
f.       Bimbingan Berlangsung dalam Berbagai setting (Adegan) Kehidupan. Pemberian layanan bimbingan tidak hanya berlangsung sekolah, tetapi juga di lingkungan keluarga, perusahaan/industri, lembaga-lembaga pemerintah/swasta, dan masyarakat pada umumnya.

2.1.4  Jenis Layanan Bimbingan
Untuk memenuhi fungsi dan tujuan bimbingan perlu dilaksanakan berbagai kegiatan layanan bantuan. Beberapa jenis layanan bantuan bimbingan itu di antaranya  adalah sebagai berikut.
a.      Pelayanan Pengumpulan Data tentang Siswa dan Lingkungannya, Pelayanan ini merupakan usaha untuk mengetahui diri individu atau siswa seluas-luasnya, beserta latar belakang lingkungannya.
b.      Konseling, Konseling merupakan pelayanan terpenting dalam program bimbingan. Layanan ini memfasilitasi siswa untuk memperoleh bantuan bantuan pribadi secara langsung, baik secara face to face maupun melalui media.
c.       Penyajian Informasi dan penempatan. Penyajian informasi dalam arti menyajikan keterangan (informasi) tentang bebagai aspek kehidupan yang diperlukan individu, seperti menyangkut aspek: (a) karakteristik dan tugas-tugas perkembangan pribadi pribadinya, (b) sekolah-sekolah lanjutan, (c) dunia kerja, (d) kiat-kiat belajar yang efektif, (e) bahaya merokok, minuman keras, dan obat-obatan terlarang, dan (f) pentingnya menyesuaikan diri dengan norma agama atau nilai-nilai moral yang dijunjung tinggi masyarakat.
d.      Penilaian dan Penelitian. Layanan penilaian dilaksanakan untuk menegetahui tujuan  program bimbingan apa saja yang telah dilaksanakan dapat dicapai.   

2.1.5 Asas Bimbingan dan Konseling
 Keberhasilan bimbingan dan konseling sangat ditentuhkan oleh diwujudkannya asas asas berikut.
a.      Rahasia, yaitu menuntut dirahasiakannya segenap data dan keterangan tentang peserta didik (klien) yang menjadi sasaran layanan, yaitu data atau keterangan yang tidak boleh dan tidak layak diketahui oleh orang lain.
b.      Sukarela, yaitu menghendaki adanya kesukaan dan kerelaan peserta didik (klien) mengikuti/menjalani layanan/kegiatan yang diperlukan baginya.
c.       Terbuka, yaitu mengehndaki agar peserta didik (klien) yang menjadi sasaran layanan/kegiatan bersifat terbuka dan tidak berpura-pura, baik di dalam menerima berbagai informasi dan materi dari luar yang berguna bagi pengembangan dirinya.
d.      Kegiatan, yaitu menghendaki agar peserta didik (klien) yang menjadi sasaran layanan berpartisipasi secara aktif di dalam penyelengaraan layanan/kegiatan bimbingan.
e.       Mandiri, yaitu menunjuk pada tujuan umum bimbingan dan konseling, yakni: peserta didik (klien) sebagai sasaran layanan bimbingan dan konseling diharapkan menjadi individu-individu yang mandiri dengan ciri-ciri mengenal dan menerima diri sendiri dan lingkungannya, mampu mengambil keputusan, mengarahkan serta mewujudkan diri sendiri.
f.       Kini, yaitu menhendaki agar objek-objek sasaran layanan bimbingan dan konseling ialah permasalahan peserta didik (klien) dalam kondisinya sekarang.
g.      Dinamis, yaitu asas bimbingan dan konseling yang agar isi layanan terhadap sasaran layanan (klien) yang sama kehendaknya selalu bergerak maju, tidak monoton, dan terus berkembang serta berkelanjutan sesuai dengan kebutuhan dan tahap perkembangannya dari waktu ke waktu.
h.      Terpadu, yaitu asas bimbingan dan konseling yang menghendaki agar berbagai layanan dan kegiatan bimbingan dan konseling, baik yang dilakukan oleh guru pembimbing maupun pihak lain, saling menunjang, harmonis, terpadu.
i.        Harmonis, yaitu mengehandaki agar segenap layanan dan kegiatan bimbingan dan konseling didasarkan pada nilai dan norma yang ada, tidak boleh bertentangan dengan nilai dan norma yang ada, yaitu nilai dan norma agama, hukum dan peraturan, adat istiadat, ilmu pengetahuan, dan kebiasaan yang berlaku.
j.        Ahli, yaitu menghendaki agar layanan dan kegiatan bimbingan dan konseling diselenggarakan atas dasar kaidah-kaidah profesional.
k.      Alih Tangan Kasus, yaitu menghendaki agar pihak-pihak yang tidak mampu menyelenggarakan layanan bimbingan dan konseling secara tepat dan tuntas atas suatu permasalahan peserta didik (klien) mengalihtangankan permasalahan itu kepada pihak lebih ahli.
l.        Tut Wuri Handayani, yaitu asas bimbingan  dan konseling yang menghendaki agar pelayanan bimbingan dan konseling secara keseluruhan dapat menciptakan suasana yang mengayomi (memberikan rasa aman), mengembangkan keteladanan, memberikan rangsangan dan dorongan serta kesempatan yang seluas-luasnya kepada peserta didik (klien) untuk maju.

2.2  LANDASAN HISTORIS
2.2.1 Perkembangan Layanan Bimbingan di Amerika
Pada tahun 1898 Jesse B. Davis, seorang konselor sekolah Detroit memulai memberikan layanan koseling pendidikan dan pekerjaan di SMA. Pada tahun 1907, dia diangkat menjadi kepala SMA di grand Rapids,Michigan. Dia memesukan program bimbingan di sekolah tersebut. Tujuan dari program bmbingan disini ialah untuk membantu siswa agar mampu
a)      Mengembangkan karakternya yang baik (memiliki nilai moral, ambisi, bekerja keras, dan kejujuran)
b)      Mencegah dirinya dari prilaku bermasalah
c)      Menghubungkan minat pekerjaaan dengan kurikulum (mata pelajaran)
Pada waktu yang sama para ahli t juga mengembangkan program bimbingan seperti berikut:
a.      Eli Weaper, pada tahun 1906 menerbitkan booklet tentang “Memilih suatu karir”. Dia telah berhasil membentuk komite Guru pembimbing di sekolah menegah di New York.
b.      Frank parson, dikenal sebagai “father of the Guidancemovement in American educatioan” mendirikan biro pekerjaan yang tujuanya membantu para pemuda untuk memilih karir yang didasarkan atas proses seleksi secara ilmiah.
c.       E.G Wliamson (1930-1940) menulis buku how to counsel Student; A manual of techniques for Clinical Counselors. Peranan konselor bersifat direktif dengan menekankan kepada (a) mengajar keterampilan dan (b) membentuk sikap dan tingkah laku.
d.      Cral R. Rogers, mengembangkan teori koseling client-centered yang tidak berfokus kepada masalah tetapi mementingkan hubungan antara konselor dengan klientnya.
Selaian itu Bradley (Jhon J. pietrofessa et.al.,1980) menambah satu tahapan dari tiga tahapan tentang sejarah bimbingan menurut Stiller yaitu:
1)      Vocational Exploration, yaituthapan yang menekankan tentang analisis individual dan pasaran kerja.
2)      Meeting Individual Needs, yaitu tahapan pada periode 40-50an yang menekankan kepada upaya membantu individu agar meperoleh kepuasan kebutuhan hidupnya.
3)      Transisional Professionalism, yaitu taapan yang memfokuskan perhatianya kepada upaya profesionalisasi konselor.
4)      Situational Diagnosis, yaitu tahapan yang terjadi pada tahun 1970an sebagai periode perubahan dan inovasi.

2.2.2 Perkembnangan dan Layanan Bimbingan di Indonesia
Perkembangan layanan bimbingan di Indonesia berbeda dengan di Amerika. Seperti terterapada uraian di atas, pekembangan layanan bimbingan di Amerika di mulai dari usaha perorangan dan pihak swasta, kemudian berangsur-angsur menjadi usaha pemerintah.
           Layanan bimbingan di Indonesia telah mulai di bicarakan secara terbuka sejak tahun 1962. Hal ini ditandai dengan adanya perubahana system pendidikkan di SMA, yaitu dengan adanya perubahan nama menjadi nama SMA Gaya Baru, dan berubahnya waktu penjurusan, yang awalnya di kelas I menjadi di kelsa II. Program penjurusan ini respon akan kebutuhan untuk menyalurkan para siswa ke jurusan yang tepat bagi dirinya secara perorangan. Dalam rencana ini SMA gaya baru, diantaranya di tegaskan sebagai berikut.
a.       Di kelas I setiap pelajar diberi kesempatan untuk lebih mengenal bakat dan minatnya, dengan jalan menjelajahi segala mata pelajaran di  SMA ,dan dengan bimbingan penyuluhan yang teliti dari para guru maupun orangtua.
b.      Dengan mempergunakan peraturan kenaikan kelas dan bahan-bahan cattan dalam kartu pribadi setiapa murid, para pelajar disalurkan ke kelas II kelompok khusus: Budaya, Sosial, Pasti dan Pengetahuan Alam.
c.       Untuk kepentingan tersebut, maka pengisian kartu pribadi murid harus dilaksanakan seteliti-telitinya (Rochman Natawidjaja,1971)
Dua naskah penting dalam sejarah perkembangan layanan bimbingan di Indonesia, yaitu sebagai berikut.
a.       Pola dasar Rencana dan Pengembanagan Program Bimbimngan dan Penyuluhan melalaui Proyek-proyek Perintis Sekolah Pembangunan.
b.      Pedooman Oprasional Pelayanan Bimbingan pada Proyek-proyek Periintis Sekolah Pembangunan.
Secara formal bimbingan dan konseling diprogramkan di sekolah sejak berlauknya kurikulum 1975, yang menyatakan bahwa bimbingan dan penyuluhan merupakan bagian integral dalam pendidikan di sekoalah.
         Setelah melalui penataan maka dalam decade 80-an bimbingan diupayakan agar lebih mantap. Pemantapan terutama diusahakan untuk mewujudkan layanan bimbingan yang professional. Upaya-upaya untuk dalam decade ini lebih mengarah pada profosinalisasi yang lebih mantap. Beberapa upaya dalam pendidikan dilakukan dalam dekade ini adalah penyempurnaan kurikulum, dari kurikulum 1975 ke kurikulum 1984 telah dimasukan bimbingan karir didalamnya.
        Pada tahun yang sama keluar juga Surat Keputusan Bersama Mendikbud dengan Kepala BAKN No. 0433/P/1993 dan No.26 tahun 1993 tentang Petunjuk Pelaksanaan Jabatan Funsional Guru dan Angka Kreditnya.
a.       Standar Prestasi Kerja Guru Pratama sampai Guru dewasa Tingkat I dalam melaksanakan PBM atau Bimbingan Meliputi Hal berikut.
1)      Persiapan program pengajaran atau praktik atau bimbingan dan konseling (BK)
2)      Penyajian program paengajaran atau paraktik atau bimbingan dan konseling.
3)      Evaluasi program pengajaran atau praktik atau bimbingan dan koseling
b.      Standar prestasi kerja guru Pembina sampai guru utama selain tersebut pada ayat 1 ditambah dengan hal berikut.
1)      Analisis hasil evaluasi pengajarran atau praktik atau BK
2)      Penyusun program perbaiakan dan pengayaan atau tindak lanjut pelaksanaan BK.
3)      Pengembangan profesi dengan angka kredit sekurang-kurangnya 12 buah
c.       Khusus standar prestasi kerja guru kelas, selain tersebut pada ayat (1) atau Ayat (2), sesuai dengan jenjang jabatanya ditambah melaksanakan program BK di kelas yang menjadi tanggung jawabanya

Berdasarkan penelaahan yang cukup kritis terhadap perjalanan historis gerakan bimbingan dan konseling di Indonesia, Prayitno (2003) mengemukakan bahwa periodesasi perkembangan gerakan bimbingan dan penyuluhan di Indonesia melailui lima periode, yaitu:
Ø  Periode I dan II: Prawacana dan Pengetahuan (sebelum 1960-1970an ).
Pada periode ini pembicaraan tentang bimbingan dan konseling telah dimulai, terutama oleh para pendidik yang pernah mempelajarinya di luar negeri.
Ø  Periode III; Permasyarakatan (1970-1990an).
 Pada periode ini berlakunya kurikulum 1975 untuk Sekolah Dasar sampai Sekolah Menengah Tingkat Atas. Kurikulum ini secara resmi mengintegrasikan ke dalamnya layanan BP ini untuk siswa.
Ø  Peride IV; Konsolidasi (1990-2000)
Pada periode ini IPBI (Ikatan Petugas Bimbingan Indonesia) berusaha keras untuk mengubah kebjakan bahwa pekayanan BP itu dapat dilaksanakan semua guru
Ø  Periode V: Lepas Landas (2001)
Semula diharapkan periode konsolidasi akan dapat mencapai hasil-hasil yang memadai , sehingga mulai tahun 2001 profesi BK di Indonesia sudah dapat tinggal landas. Namun nyatanya menunjukan bahwa masih ada permasalahan yang belum terkonsolidasi , yang berkenan dengan sumber daya manusia (SDM). Kelemahanya berakar dari kodisi untrained, undertrained, dan uncommitted para pelaksana layanan.







Simpulan
Bimbingan konseling tidak dapat dipisahkan dari dunia pendidikan untuk memberikan pelayanan kepada peserta didik untuk mengembangkan potensi yang dimiliki dan juga bisa digunakan untuk memecahkan suatu masalah. Pengembangan potensi individu sudah berkembang sejak zaman Yunani Kuno, yang dipelopori oleh Plato dan Aristoteles.
           
Daftar pustaka
 Yasuf, Syamsu dan A. Juntika Nurihsan (2011) Landasan Bimbingan & Konseling. Bandung : PT Remaja Rosdakarya.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar